Bojonegoro (Indo Swara) – Memberikan konotasi sebagai makna terhadap mitos yang melatarbelakangi lawatan spiritual Wakil Bupati Bojonegoro, Budi Irawanto ke makam Lancing Kusuma bisa dibaca memiliki aspek personal, interpersonal, dan filosofis.

Mengapa tidak?

Bojonegoro sedang kebanjiran duit. Produksi minyak Blok Cepu tahun 2020 mencapai 210 mbopd atau setara dengan 30% produksi minyak nasional. Blok Cepu akan menyumbangkan pendapatan kepada Negara mencapai 45 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sebanding Rp 655,056 triliun di harga minyak sekitar 70 dolar AS per barrel selama jangka waktu Kontrak Kerja Sama.

Kontrak Kerja Sama (KKS) Cepu ditandatangani pada 17 September 2005. ExxonMobil memegang 45% dari total saham partisipasi Blok Cepu, sisanya PEPC 45% dan BUMD 10%, yang salah satunya adalah PT Asri Dharma Sejahtera Bojonegoro.

Melubernya pendapatan daerah bersumber dari minyak mendekatkan terjadinya pembelanjaan salah urus. Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SILPA) Bojonegoro di 2019, sebesar Rp 2,3 triliun, tertinggi di Indonesia. Sebaliknya, kemampuan daya beli masyarakat Bojonegoro saat ini masih sangat rendah, urutan 28 di Jawa Timur.

Persepsi kolektif dalam kisah elusif terhadap penokohan Raden Bagus Lancing Kusuma, di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro, yang ditandai berupa makam dikeramatkan menjadi pilihan berziarahnya Wabup Wawan baru-baru ini, barangkali untuk mengaksentuasikan kegundahannya lantaran rendetnya pengelolaan pembiayaan untuk kesejahteraan segenap lapisan masyarakat di Bojonegoro?

Lancing Kusuma adalah pelawan penjajahan kompeni. Masa perjuangannya berhenti di kawasan hutan bagian selatan Bojonegoro. Ia memiliki kesaktian bisa menciptakan sumber mata air. Untuk menjaga kewibawaan dirinya sekaligus menjaga keamanan lingkungan huniannya, Lancing Kusuma dikawani seekor harimau.

Dituturkan oleh sejumlah warga di Clebung,“Kemunculan harimau dengan aumannya bermaksud menghalau orang mabuk atau siapa pun yang kedapatan melakukan kejahatan.”

“Tentang peristiwa masa lalu bisa menjadi perekat kolektif yang kuat, dan menciptakan rasa kebersamaan yang dalam. Cerita tersebut menjadi bermakna karena berisi kebijaksanaan-kebijaksanaan, perlu diwariskan dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya,” ucap Wabup Wawan tersirat implisit.

Pewarta: Agung DePe

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *