Bojonegoro (Indo Swara) – Urusan cinta itu boleh terus, mandek, bahkan putus.

Di penghujung tahun (18/11/ 2020), pengajuan sengketa cerai yang telah diketok palu majelis hakim Pengadilan Agama Bojonegoro, meloloskan 4.197 janda dan duda.

Ketua Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik memperincikan, sebesar 80 persen tergolong  janda baru masih berusia muda, yakni kisaran usia di bawah 35 tahun.

“Pendorong yang mempengaruhi tingginya angka perceraian tersebut selain faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), juga karena rendahnya pendidikan pasangan suami istri,” terang Sholikin.

Tidak kalah penting, mendesak minta kawin adalah problem perjodohan yang ditangani pengadilan agama. Bahkan, faktanya Bojonegoro menempati urutan ke tujuh tertinggi dalam angka pernikahan dini di Jawa Timur.

Sholikin mengungkapkan, permohonan Dispensasi Kawin (Diska) hingga 16 Desember tahun 2020, terhitung 628 berkas.  Lonjakan ini  hampir empat ratus persen dibanding tahun 2019, yang hanya 199 bendel .

Persuratan berhubungan badan agar legal, termasuk beristri rangkap juga bagian  kewenangan pengadilan agama.

Sepanjang tahun 2020, terdapat sembilan orang laki-laki dengan latar belakang pengusaha telah menyodorkan izin berpoligami.

“Dari  sembilan orang itu, satu di antara yang ada untuk menikahi istri ke tiga,” jelas Sholikin Jamik, Jumat (15/01/2021).

 

Pewarta: Top

Editor: Red –  Indo Swara/Agung DePe    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *