Oleh : Agung DePe

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur.

Harfiahnya, gempa bumi, langit kilat menyambar-nyambar, tampak seperti orang lagi kasmaran terhadap segala bernilai duniawi (terutama kekuasaan), sampai gunung bergoyang memporak-porandakan.

Suluk pedalangan wayang kulit itu memberikan penafsiran terbuka. Terkini, meletusnya Gunung Semeru, sebagai poros spiritualitas dan dimensi mikrokosmos tentang tatanan kekuasaan Jawa, adalah pertanda penting datangnya perubahan. Selain kerusakan fisik akibat letusan, peristiwa tersebut hampir pasti membantu meningkatkan harapan-harapan akan munculnya Ratu Adil.

Saya pilahkan, secara umum menyikapi gunung meletus, masyarakat kecil menyebut sebagai takdir, para pejabat berpendapat sebagai cobaan, para ulama dan paranormal menyakininya sebagai peringatan.

Dalam mitologi Hindu, Semeru diartikan sebagai pusat jagat raya. Tempat bersemayamnya para dewa. Dikisahkan pada naskah Tantu Pagelaran, Semeru berasal dari India. Kala itu pulau Jawa terombang-ambing oleh samudera. Seketika, Batara Guru memerintahkan para dewa dan raksasa untuk memindahkan Gunung Mahameru di India sebagai pemberat.

Mahameru kemudian diletakkan di barat pulau Jawa. Karena tak seimbang, dengan buru-buru mereka memindahkan Gunung Mahameru ke timur. Di tengah perjalanan, beberapa bagian Mahameru tercecer lalu membentuk gunung-gunung di sepanjang pulau Jawa. Mahameru pun berhasil ditempatkan di sebelah timur.

Kisah Gunung Semeru sebagai area pertapaan Dewa Siwa diperkuat dengan ditemukannya situs purbakala di sekitar Semeru. Paling dikenal adalah prasasti di Ranu Kumbolo dan Arcapada. Prasasti di Ranu Kumbolo yang berbahasa Jawa Kuno diperkirakan telah hadir sejak awal abad 12.

Saya pribadi, mengimajinasikan eksistensi Semeru karena membaca Catatan Soe Hok Gie. Sebagai seorang demonstran, Gie menggambarkan Semeru sebagai tempatnya menemukan kesunyian abadi. Seperti diceritakan, Soe Hok Gie meninggal dalam kegelisahan sebelum mencapai puncak pendakian Semeru.

Gie menemui kenyataan bahwa teman-teman aktivis mahasiswanya sesama tokoh Angkatan ’66, gemar memburu hal-hal yang bersifat duniawi ketimbang menyatukan pikiran pasca perubahan.

Sebelum berangkat mendaki Semeru, Gie bahkan sempat mengirimkan kosmetik, kain sarung, dan kebaya kepada sejumlah wakil mahasiswa di DPR- GR (Gotong Royong) sebagai bentuk sindiran. “Semoga anda makin tampil manis di mata pemerintah,” pesannya kepada teman-teman aktivisnya.

Hujan kecil bercampur pasir kasar menjelaskan kengerian suasana puncak Semeru. Pada 16 Desember 1969, Gie tewas setelah menghirup gas. Tentu saja, menjelang tutup usianya, beberapa jam selanjutnya semestinya menepati ulang tahunnya ke-27, tidak terdengar lagu Nobody Knows the Trouble I’ve Seen, sebagaimana Gie biasa menyanyikannya dengan lantang dan percaya diri.

Editor: Red – Indo Swara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.