Pewarta: Hening Bulan

Kabar Sejarah (Indo Swara) – Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dinaikkan kapal ketika hendak dibuang ke Boven Digul, Papua pada 28 Januari 1935 silam. Nama kapalnya Van der Wijck milik maskapai pelayaran Belanda.

“Sesudah seminggu dalam bui Makassar, kami dinaikkan ke kapal KPM Van der Wijck menuju Ambon,” tulis Mohammad Hatta dalam memoarnya, Mohammad Hatta: Memoir (1979:352).

Riwayat kapal ini setelah nahas menjadi awet dalam ingatan sejak Buya Hamka menerbitkan novelnya di tahun 1939, berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Kapal ini mengalami kemalangan di kawasan yang disebut Westgat, selat di antara Pulau Madura dan Surabaya, kira-kira 22 mil di sebelah barat laut Surabaya. Kapal Van Der Wijk pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 1936 tenggelam di perairan Lamongan.

Jumlah penumpang saat itu terdapat 187 warga pribumi dan 39 warga Eropa. Sedangkan jumlah awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis, seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi.

Koran De Telegraaf, 22 Oktober 1936, menulis kurang lebih 42 orang korban yang hilang. Versi lain menyebutkan, jumlah penumpang yang berhasil diselamatkan 153 orang. Sementara terhitung 70 orang, baik penumpang maupun awak kapal, dilaporkan lenyap.

Tidak akuratnya hitungan ini disebabkan jumlah penumpang kapal tidak sesuai dengan manifes. Ada banyak kuli angkut pribumi yang tidak tercatat, kemungkinan merekalah yang banyak hilang.

Pandji Poestaka edisi 23 Oktober 1936 memberitakan kejadian tenggelamnya kapal ini.

Pedoman Masjarakat 28 April 1937 menurunkan tulisan untuk memeriksa kasus tenggelamnya Van der Wijk. Dewan pelayaran (Raad van Scheepvaard) yang mengurusi perhubungan laut bersidang di Betawi pada 21 April 1937.

Untuk menghadirkan peristiwa tragis itu dalam lintasan waktu, sebuah tugu telah didirikan di Brondong – Lamongan.

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *