Pewarta: Hening Bulan

Berita sejarah (Indo Swara) – Tampomas terbakar di laut lepas. Tampomas beli lewat jalur culas.

Nukilan bait lagu Celoteh Camar Tolol dan Cemar gubahanIwan Fals ini menjangkaukan kembali mendidihnya darah marah terhadap kebobrokan pemerintah Orde Baru empat puluh tahun lalu.

Menurut buku Penyelewengan Dibalik Tenggelamnya Tampomas II (1982), kapal bekas ini dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$ 8,3 juta. Angka ini mengherankan beberapa pihak karena PANN ternyata pernah diberi tawaran kapal lain yang harganya hanya US$ 3,6 juta.

Pukul 19.00 WIB, pada Sabtu, 24 Januari 1981, kapal berisi muatan penuh orang dan barang ini bertolak dari Tanjung Priok, Jakarta.

Di atas kapal terdapat 191 mobil, 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang gelap.

Setelah sehari semalam melintasi lautan mesin kapal rusak di Minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA, karena kebocoran bahan bakar. Api mulai menyambar dan kru mesin bekerja sekuat tenaga memadamkannya dengan alat pemadam portabel. Api lalu menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka.

Usaha pemadaman gagal saat air untuk memadamkan api tak bisa disemprotkan karena generator mati. Api kian berkobar dan menjalar ke ruang mesin, lalu merembet ke ruang ditempatkannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.

Panasnya api membuat beberapa penumpang terjun dan yang beruntung turun ke dalam sekoci. Evakuasi penumpang berlangsung kacau. Tak ada tanda arah jalan keluar yang jelas di dalam kapal. Malah, ada awak kapal yang menurunkan sekoci untuk dirinya sendiri.

Ruang mesin Tampomas II meledak pada pagi 27 Januari 1981. Akhirnya, pada pukul 12. 45 WIB atau pukul 13.45 WITA, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa.

Ratusan penumpang tak terselamatkan. Kisah tenggelamnya kapal itu ditulis dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II (1981).

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *