Bojonegoro (Indo Swara) – Panas nian adalah perolehan serta-merta penglihatan saat melintas di sejumlah kawasan jalan Kota Bojonegoro, kini.

Peniadaan pohon peneduh yang sebagian sudah berumur puluhan tahun diberikan alasan untuk normalisasi saluran air sekaligus mempersolek tampilan trotoar.

Disebutkan, penghilangan tanaman itu diganti dengan 1.069 pohon tabebuya.

Pula, tahun 2021, pemotongan pohon bakal dilanjutkan, bahkan diperluas sasarannya.

Sumber keterangan di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya Bojonegoro, menjelaskan, penebangan pohon melingkupi Jalan Gajah Mada, Panglima Sudirman, Trunojoyo, Imam Bonjol, Hasyim Ashari dan Mastrip.

Perobohan pohon dengan jenis sono dan akasia itu jelas punya nilai ekonomi. Hanya saja, potongan-potongan pohon itu masih dibiarkan menumpuk di lokasi Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) Banjarsari.

Berapa kubik jumlahnya? Menurut kalkulasi seorang petugas keamanan TPA ada delapan puluh kali truk pembawa kayu masuk ke TPA.“Itu ada notanya,” tegas petugas keamanan itu.

Ada rencana dijual? Kasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Kebersihan, Jarmin, di Dinas Lingkungan Hidup (LH) Bojonegoro, menyatakan keinginannya agar kayu-kayu bekas perindang kota itu bisa selekasnya dilelang.

“Tetapi, urusan pelelangan kayu itu masih menunggu keputusan bupati,” ujar Jarmin (02/02/2021).

 

Pewarta: Agung DePe

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *