Bojonegoro (Indo Swara) – Rumus hidup seorang petani adalah, ia selalu bangun tepat waktu untuk memulai lebih awal.

Selanjutnya, petani berulang tak panen bukan saja oleh serangan hama, tetapi lebih sering akibat ketidakbecusan pemegang kendali pemihakan petani.

Berangsurnya, kejadian di Bojonegoro, sebanyak 151.981 kartu tani tidak berfungsi. Padahal, kartu tani dipatok sudah bisa digunakan sejak 1 September 2020 lalu.

Kepala Seksi Pupuk dan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Dinas Pertanian Bojonegoro, Tatik Kasiati, mengatakan penebusan pupuk bersubsidi tetap menggunakan cara manual.

Tatik menjelaskan, pada 2021 terdapat 234.308 petani yang sudah terdaftar di rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

“Jika tidak terdaftar, tidak bisa memperoleh pupuk,” kupas Tatik kepada pers (03/02/2021).

Berjumlah 151.981 kartu tani sebenarnya sudah tercetak dan didistribusikan kepada petani. Tetapi penerapan kartu dihambat oleh sistem terintegrasi salah urus penopang kebijakan terhadap petani.

 

Pewarta: Agung DePe

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *