Oleh Agung DePe

“Silakan kritik pemerintah!”

Pernyataan Presiden Jokowi itu kemudian menjadikan saya berkira-kira, saya ulangi bersambung-sambung ulang. Tentu saja paling kerap saat singgah di kamar pelepasan kotoran pribadi.

Bercelatuk saya dalam gumam,” Kritik perlu dibedakan tegas dengan ujaran kebencian, fitnah, atau hasutan…”.

Bedebah! Kalimat saya di renungan mengental seketika lantaran muncul kata buzzer. Istilah ini berkontribusi mengobrak-abrik berpadu-padannya amatan saya.

Sebab itu berarti ancaman, sekaligus persekongkolan pembunuhan akal sehat.

Buzzer beroleh cap negatif sebagai pihak yang dibayar untuk memproduksi konten busuk di media sosial.

Bahkan, aktifitas buzzer ditabukan. Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang ditetapkan, Nomor 24 pada 13 Mei 2017, menyebutkan, buzzer yang menjadi penyedia informasi berisi hoaks, ghibah, fitnah, naminah, bullying, aib, gossip, dan hal-hal sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non ekonomi, hukumnya haram.

Tulis Fatwa MUI,” Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.”

Buzzer telah digunakan oleh tokoh publik berpengaruh untuk mengawetkan kekuasaannya. Regulasi disusun menjadi senjata jeratan terhadap cecaran pencemaran tinggi nama. Undang-Undang ITE menjadi penyangkalan diri pemerintah dalam melumpuhkan buzzer lawan politiknya. Bahkan, aparat negara begitu rajin menerapkan pasal UU ITE mengenai pencacian nama baik.

UU ITE dalam hal ini dinilai sebagai perpanjangan KUHP mengenai tindak pidana penghinaan, karena dalam KUHP tidak termuat pasal yang menunjuk publikasi online.

Apik disimak, ketika Kapolri Jenderal Listyo Sigit Purnomo, berpendapat penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sudah tidak sehat.

Sigit mengatakan, belakangan UU ini digunakan untuk saling melapor. Tindakan itu memunculkan polarisasi di masyarakat.

Genap, kesan UU ITE dipakai untuk menekan kelompok tertentu, sedangkan ke kelompok lain, bengkok. Ini berakibat ke cidra polisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *