Oleh Agung DePe

Katakan ‘Bela Sungkawa’ dengan karangan bunga, nyatanya pula bisa dikirim kepada yang masih jangkap nyawa. Itu terjadi di rumah Moeldoko, sebagai kesamaan aksi yel-yel satuan kecil orang pembela Kepala Staf Kepresidenan itu, setelah dituding Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), merancang kup terhadap Partai Demokrat.

“Ratusan karangan bunga pun tak kan mampu menutupi bau busuk bunga bangkai,” tulis politikus Demokrat Irwan Fecho, yang sosoknya pernah menjadi sorotan publik saat mikrofonnya dalam Rapat Paripurna Pengesahan RUU Cipta Karya dimatikan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani.

Nama Moeldoko adalah yang semula anasir samar dari kacamata kerakusan politik.
Di lingkaran presiden, Moeldoko selaku pejabat negara, sekaligus bisa disebut representasi presiden. Seperti mana rezim berkuasa, tentu saja tetap serupa begal lantaran mencongkel paksa pemimpin partai di luar jeruji pemerintahan.

Mengapa AHY harus dipenggal? Kalkulasi retoris paling logis, bahwa peran oposisi Partai Demokrat telah dilihat sebagai beban yang tidak mungkin diajak kompromi dalam rumus takaran politik otoritarianisme.

Tragedi diulang, anatomi Orde Baru direkonstruksi. Kehendak demokrasi menjadi matra licin anti kritik, diskusi, dan dialektika.

Tampil mukanya Jenderal pensiunan Moeldoko merampas Partai Demokrat adalah merajarelanya kesintingan yang harus kita terima sebagai kembalinya militerisme.

Fasisme politik ekstrem hari ini tidak meliyankan hanya menjaga Jokowi leluasa berlangsung mengangkangi pemerintahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *