Oleh: Agung DePe

Stigmatisasi jenggot mengidentikkan ciri-ciri teroris terang saja penyimpangan. Kalau pun saat ini publik lagi gencar-gencarnya membincang penangkapan Farid Okbah Cs oleh Densus 88, bisa dibilang para pria terduga radikalisme itu kebetulan gondrong bulu dagunya.

Asosiasi positif berkaitan jenggot sudah ada sejak era Yunani Kuno. Jenggot dipandang sebagai tanda kehormatan. Pemotongan jenggot kala itu sebagai bentuk hukuman terhadap laki-laki. Sedangkan di Turki dan India, jenggot panjang melambangkan kebijaksanaan dan martabat tinggi.

Melompat ke abad-20, tren laki-laki berjenggot muncul pada dekade 1940-1950-an dengan gaya goatee. Popularitas goatee membumbung seiring munculnya gerakan seperti beatnik berikut penampilan-penampilan musisi jazz kurun 40-an, termasuk Dizzy Gillespie.

Ketika 1960-an, gaya massal menumbuhkan jenggot berkorelasi dengan ekspresi sikap membangkang dan kreativitas. Jenggot yang dibiarkan subur liar kebanyakan laki-laki berprofesi sebagai penulis, pembuat film, dan kelompok-kelompok revolusioner. Gemar jenggot terus berlangsung, salah satu sebabnya lantaran pengaruh dari The Beatles dan Bee Gees.

Tidak hanya interpretasi gagasan budaya, penumbuhan jenggot juga dapat ditelisik dari aspek evolusi. Menurut Profesor Rob Brooks, biolog evolusi dari University of New South Wales, laki-laki menumbuhkan jenggot untuk kepentingan perkembangbiakan.

Jenggot dianggap menjadi daya tarik bagi perempuan sehingga kemungkinan laki-laki bisa kawin dan bereproduksi lebih besar.

Anggapan bahwa jenggot merupakan daya tarik bagi lawan jenis diperteguh dengan temuan dari studi yang dimuat di Archives of Sexual Behaviour tahun 2015. Di sana dikatakan, responden perempuan menganggap laki-laki berjenggot lebih atraktif daripada laki-laki bercukur bersih.

Mengutip sebuah studi yang membandingkan mutasi gen terkait pertumbuhan rambut manusia dan simpanse, kerontokan dan pergantian rambut baru pada simpanse lebih cepat.

Inilah yang mendorong manusia untuk melakukan penataan rambut, termasuk jenggot – meski bukan seperti yang ditemukan pada era modern. Para antropolog melihat, seperti halnya membuat api untuk memasak: jenggot adalah yang universal bagi manusia – bukan urusan bahayanya pria berjenggot.

Editor: Red – Indo Swara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *