Pewarta: Hening Bulan

Berita Sejarah (Indo Swara) – “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” tulis Chairil Anwar dalam sajak Aku,  tahun 1943, ketika ia berumur 20 tahun.

Nyatanya, Chairil Anwar bernyawa cekak. Enam tahun kemudian ia meninggalkan jasadnya. Sebagaimana ia menegaskan dalam sajaknya yang lain, tahun 1949, Yang Terampas dan Yang Putus.

Mendiang dikenal sebagai sosok berpenampilan urakan. Mata selalu merah lantaran jarang tidur dan pakaian lusuh yang ia kenakan adalah dua ciri eksentrik melekat padanya.

Kendati begitu, banyak wanita tercatat pernah tertambat hati Chairil Anwar. Sederet sebutan, Ida, Sri Ajati, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sumirat, bisa dilacak dalam puisi-puisinya.

Para sahabatnya tahu, Chairil suka meliarkan hasrat kelelakiannya ke tempat pelacuran. Hingga, pelukis terkenal, Affandi, yang merupakan teman dekat pria kelahiran Medan, 26 Juli 1922 itu, pernah tersembur ulahnya.

Suatu ketika, Chairil pergi ke sebuah tempat pelacuran, tapi ia lupa membawa dompet. Dirinya kemudian meminta PSK yang melayaninya agar datang ke alamat untuk mengambil bayaran, yang tak lain adalah tempat tinggal Affandi. Chairil memang acapkali tidur di rumah itu.

Nahas, ketika PSK itu datang menagih ongkos, yang ia temui adalah istri Affandi, yakni Maryati. Sang istri pun marah besar dan berbuntut runyam. Kendati Chairil sudah menjelaskan dan meminta maaf, Maryati tetap meragukan cinta sang maestro seni lukis Indonesia itu. Sang istri pun menyuruh suaminya menikah lagi, dan memilihkan calon istri muda, yaitu Rubiyem.

Meski nakal, penyair Aku itu pada akhirnya menikah dengan Hapsah Wirareja, perempuan asal Karawang. Namanya terukir dalam satu dari 70 puisi karya Chairil dengan judul Buat H.

Dalam pernikahan itu, Hapsah melahirkan seorang putri yang diberi nama Evawani Alissa. Pedihnya, Chairil keburu meninggal sekira setahun setelah kelahiran sang buah hati.

Evawani tak pernah mengenal sosok ayahnya yang kelak menjadi salah satu ikon puisi modern tanah air. Apalagi ibunya sendiri tak pernah menceritakannya.

Setelahnya, gadis kelahiran 17 Juni 1947 itu mengetahui sosok sang ayah melalui HB Jassin. Eva pun bisa menghadirkan kembali ‘hidup’ sosok Chairil yang mati muda 28 April 1949, lewat pelbagi karya yang telah dijalangkannya.

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *