Oleh Agung DePe

“Bangsa yang tidak bisa mem- produceer pencerminan daripada rasa-rasa  objectief , bangsa itu adalah bangsa kintel dan bangsa tempe, kataku.”

Kutipan ini diambilkan dari lontaran pidato Presiden Soekarno pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, 10 November 1965.

Sebelum tempe bisa berulang-berbalik mengguncang-guncang negeri pertiwi karena berdaya guna ekonomi tinggi saat ini, di masa lalu memang dijadikan ujaran ejekan atas sikap gampang loyo.

Tempe meluas ke pelbagai penjuru dunia setelah mikrobiolog Amerika dari Cornell University dan United State Departement of Agriculture meneliti tempe. Yap Bwee Hwa, pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa Fullbright dan bekerja di Cornell sejak tahun 1958, adalah orang pertama yang membuat tempe di Amerika.

Data di Kementan, pada 2016, menyebutkan kebutuhan kedelai masyarakat Indonesia mencapai 2,59 juta ton. Sementara, BPS menunjukkan, kedelai yang diproduksi dalam negeri hanya mencapai 859.653 ton.

Sepanjang Januari-Oktober 2020, Indonesia sudah lebih dari 2,11 juta ton kedelai dengan nilai 842 juta dolar AS atau sekitar Rp 11,7 juta.

Statistik pertanian, Amerika Serikat menjadi pengekspor kedelai ke Indonesia dengan nilai paling besar berupa kedelai segar dan kedelai olahan. Selebihnya berasal dari Kanada, Argentina, Uruguay, dan Perancis.

Impor kedelai Indonesia menurut laporan Bokhuis dan Von Libbenstein (1932) sudah terjadi sejak tahun 1928 berasal dari Manchuria, walaupun dikenakan tidak besar, hanya 63.000 ton per tahun.

Impor kedelai meningkat mengikuti kenaikan deret hitung mulai 1975, hingga sekarang.

Mengawali 2021 kegaduhan soal kedelai mencuat. Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta memastikan para perajin tahu-tempe telah melakukan produksi sejak malam tahun baru, atau 1-3 Januari 2021. Hal tersebut sebagai respons perajin terhadap melonjaknya harga kedelai.

Sulit ditampik, akhirnya kita harus ‘terima kalah’ sebagai bangsa lembek karena terjajah negara lain penyedia bahan tempe.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *