Pewarta: Hening Bulan

Berita Sejarah (Indo Swara) – Keteladanan Ki Hadjar Dewantara bukan saja tercermin dari pemikirannya. Ia juga bernyali seorang pendekar.

Dalam peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (saat ini Monas), 19 September 1945, presiden dan jajaran kabinetnya harus menembus kepungan senjata serdadu Jepang di sekeliling lapangan.

Pada awalnya, rapat direncanakan untuk berlangsung pada tanggal 17 September 1945, tepat sebulan setelah kemerdekaan. Adanya ancaman dari tentara Jepang dan Sekutu membuat rapat diundur dua hari kemudian.

Tujuan diadakannya rapat dalam peristiwa Lapangan Ikada adalah mendekatkan pemerintah RI dengan rakyat secara emosional mengenai kemerdekaan Indonesia.

Aksi pengerahan massa ini juga dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan terhadap pemerintahan militer Jepang yang bersikeras mempertahankan status quo sampai Sekutu datang ke Indonesia.

Setelah semua sepakat hadir, tantangan lainnya adalah menentukan Menteri yang membuka jalan ke Lapangan Ikada.

Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara yang ketika itu menjadi Menteri Pengajaran mengajukan diri sebagai pembuka jalan. Ayah enam anak ini menerobos penjagaan tantara Jepang bersama Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo dan Menteri Sosial Iwa Koesoema Soemantri.

Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdoel Gaffar Pringgodigdo tentang usianya yang tidak lagi muda, Ki Hadjar menjawab enteng,”Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa.”

(Diverifikasi dari berbagai sumber)

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *