Oleh: Agung DePe

Bangsa Indonesia kini tengah mengidentifikasikan peralihan dari nasionalisme kolonial menjadi nasionalisme bangsa merdeka. Pertanyan yang kemudian boleh diajukan, mengapa hampir seluruh pahlawan nasional itu hanya berlatar belakang politik, atau pejabat politik, dan sebagian lagi petinggi militer?

Lagi pula, siapa yang memiliki otoritas meneguhkan sebutan nama seseorang sebagai pahlawan? Pemerintah saja, rakyat banyak, atau penulis sejarah?

Jika ukuran utamanya ialah perjuangan merebut kemerdekaan apakah tokoh seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sanusi Pane, mereka yang berjuang melalui jalan kebudayaan bukan pahlawan?

Kalau penyair seperti Amir Hamzah diakui negara sebagai pahlawan apa sebab ia dianggap dibunuh gerobolan PKI, bukan lantaran puisi-puisinya?

Bagaimana di masa kini, apakah hanya kepada para pemikul senjata dan para politikus yang berhak dijuluki pahlawan?

Mitos kepahlawanan menjadi banalisme atau sekadar pleonasme sosial. Kepahlawanan pun mengalami degradasi makna dan nilai, kemerosotan drastis dalam hikmah dan aksinya, semacam amelioratif semantik hingga praksisnya.

Saya ingat kutipan kalimat Soe Hok Gie,” Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”

Editor: Red – Indo Swara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *