INDOSWARA – BOJONEGORO – Sejak Tahun 1982 silam Tanah Kas Desa (TKD) di Desa Kalirejo Kecamatan Kota Bojonegoro yang diambil alih oleh yayasan suyitno untuk didirikan bangunan di Universitas Bojonegoro (UNIGORO), hingga kini belum mendapatkan kejelasan akan ganti ruginya. Hal itu membuat pemerintah desa setempat melaporkan kejadian ini ke Kejaksaan Negeri Bojonegoro.

Menurut wili agus saputro selaku sekertaris Desa Kalirejo, Dilaporkanya yayasan suyitno ke Kejaksaan Negeri Bojonegoro karna pihak desa mengaggap tidak ada niatan baik dari yayasan Suyitno terhadap Desa Kalirejo, karna sejak tahun 1982 hingga kini pihak yayasan tidak memberikan ganti rugi atau tukar guling tanah lain.

sejak tahun 1982 hingga kini pihak yayasan Suyitno hanya diam saja dan tidak ada niatan baik untuk menukar dengan tanah lain, selain itu pihak yayasan sendiri lewat Universitas Bojonegoro juga tidak pernah memberikan kontribusi kepada pihak Desa, padahal sebagian tanah yang dibangun di UNIGORO adalah tanah kas desa kalirejo”, tutur wili.

Ia menambahkan terdapat keanehan dalam proses terbitnya surat hak pakai yang dikeluarkan oleh badan pertanahan negeri (BPN) Bojonegoro, karna dalam proses penerbitan surat hak pakai itu di tahun 2013 silam tidak pernah melibatkan pihak desa Kalirejo. Ia berharap agar pihak yayasan suyitno mengembalikan kembali Tanah kas Desa yang kini dijadikan salah satu gedung di Unigoro.

yang kami pertanyakan lagi kenapa pihak unigoro memiliki surat hak pakai yang diterbitkan oleh BPN tanpa melibatkan kami pihak desa, padahal kepemilikan resmi adalah kami, kami juga berharap agar pihak yayasan segera mengembalikan tanah kas desa kami,. Tambah wili.

Menurut kepala kejaksaan Negri Bojonegoro (kajari) Badrut Tamam hingga kini pihak kejaksaan Negeri Bojonegoro masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan bukti – bukti dan keterangan dari berbagai saksi yang dulu ikut dalam musyawaroh Desa di tahun 1982, namun pihak Kejaksaan juga mengaku mendapatkan sedikit kendala karna banyaknya saksi yang kini telah meninggal dunia.

kita kini masih dalam penyelidikan dengan mengumpulkan bukti – bukti dan para saksi, namun banyak saksi yang dulu ikut dalam musyawaroh di tahun 1982 telah meninggal dunia, namun itu tidak menjadi hambatan bagi kami untuk melakukan penyelidikan“, ungkap badrut tamam. (mam/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.