INDOSWARA – BOJONEGORO – Selama dua tahun terakhir Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro telah menyelesaikan lima perkara lewat jalur Restorative Justice. Penyelesaian perkara ini artinya mengambil konsep perdamaian melalui musyawarah mufakat sebelum masuk ke ranah penegakan hukum.

Salah satu kasus yang mendapat penghentian penuntutan perkara yang dilakukan hari ini yakni, kasus penganiayaan oleh pelaku Teguh Widiarto dengan korban Yudi Harmoko (40). Kasus tersebut terjadi saat pergantian tahun 2022 di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.

Kepala Kejaksan Negeri (Kajari) Bojonegoro Badrut Tamam mengatakan, selama dua tahun terakhir telah menyelesaikan lima perkara dengan cara perdamaian. Pada 2021 satu perkara dan 2022 empat perkara, yakni perkara penganiayaan tiga kasus dan satu perkara KDRT dan perusakan.

Program dari Jaksa Agung tidak mengikat adanya lagi persidangan dengan kasus kriminalitas yang kecil. Jadi ada pergeseran dalam penegakan hukum berdasarkan restoratif. Atau mengajak bagaimana perdamaian itu tercipta,” ujar Kajari.

Menurut Badrut Tamam, tidak semua perkara bisa diselesaikan dengan cara restorative justice. Beberapa perkara yang bisa syarat diantaranya, ancaman pidana tidak lebih dari lima tahun, kerugian yang timbul tidak lebih dari Rp2,5 juta, pelaku bukan residivis, dan adanya upaya damai dari kedua belah pihak.(mam/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.