Oleh: Agung DePe

Indehoy? Siapa pun paham artinya. Kosakata dipungut dari bahasa Belanda in het hooi itu dimaksudkan sebagai kegiatan mesum.

Rupa muka lapis luar Indonesia terkini boleh diistimewakan dengan tiga jari: jempol dijepit antara telunjuk dan jari tengah. Tidak seronoknya, jari sebagai simbol ajakan berbuat cabul itu telah dimainkan oleh guru-guru penuntun arah ke surga.

Peristiwa rudapaksa menimpa 12 santriwati di Bandung yang dilakukan oleh guru agama Herry Wirawan (36) dipastikan paling disorot. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil andil berang mengutuk pelaku pemerkosa. Menimpali alur selanjutnya, di Tasikmalaya polisi sedang mendalami terlapor seorang pengasuh pondok pesantren, sebab menjamah tubuh sejumlah murid putrinya. Bejat tak putus cerita, di Cilacap seorang guru pelajaran agama berinisial MAYH (51) terungkap melepaskan birahinya terhadap 15 murid yang usianya paling besar baru 9 tahun.

Menilik kait-mengkaitan jarak kejadian biadab serupa sebelumnya. Di Jombang, seorang pimpinan pondok pesantren dengan nama singkatan SB (50) mencabuli hingga menyetubuhi 15 santriwatinya. Pria berkelebihan birahi  ini dicokok polisi pada (11/2/2021) silam.  Dalam keterangan resmi  polisi menyebutkan, modus  SB memberi doktrin sesat kepada korban, bahwa alat kelamin perempuan adalah jalan yang mulia. Sedang hubungan suami istri akan menjadikan orang beruntung.

Kalau dirangkum rinci kejadian guru agama menggagahi santriwatinya sepanjang dua tahun ini tentu memaksa kita lebih lama tercengang.

Usut punya usut, cakap dari segi teori spiritual saja memang tidak cukup. Sebagaimana saya mengutip pemikiran Sigmun Freud, bahwa kepribadian dipengaruhi tiga tingkat kesadaran, yaitu sadar, prasadar, dan tidak sadar.

Teori lain yang menjelaskan mengapa seorang pengajar ilmu agama bisa melakukan pemerkosaan? Saya menukil Michael Foucault seorang filsuf pelopor struturalisme, adalah karena terdapatnya relasi kuasa. Dengan kata lain, relasi kuasa dalam kekerasan seksual  merupakan unsur yang dipengaruhi oleh kekuasaan pelaku atas ketidakberdayaan korban. Sehingga dalam kriminal muncul rumus N+KS=KJ. N itu niat, KS itu kesempatan, KJ itu kejahatan.

Kasus menjimak paksa telah mengarah menjadi problem kebangsaan. Penjualan pendidikan dikedoki adagium agama semata tampak sisi lain telah memberi ruang lega bagi terciptanya banyak iblis lebih pintar, menjelma sebagai guru agama bedebah.

Editor/Red- Indo Swara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.