Oleh Farhan Ulil

(UJARAN BEBAS) – Persibo diulang tampak mati. Setelah sekian lama tak bernapas lega, lalu saat hendak digugah agar selekas mungkin Persibo bangkit dengan menghadirkan seorang bakal CEO baru, tiba-tiba diserimpung oleh bupati. 

Tentu saja ini memantik kegaduhan dan silang wasangka berbagai komponen masyarakat pemerhati murni sepak bola daerah, terutama kalangan Boromania dan Curva Nord. Apakah keberlanjutan kegairahan olahraga sepak bola di Bojonegoro hanya menjadi sliding tacle para politisi? Padahal, paling dirindukan suporter Persibo adalah bisa secepatnya membahanakan lagi mars heroik mereka “Bangga Mengawalmu Pahlawan”, bukan cuma pertontonan konyol bupati berperaga molat-molet kegirangan di kaca TikTok?

Ini sungguh sebagai sisi pemungkiran Bupati untuk menepati janji kampanyenya di 2018 lalu. Dari 17 program yang terlanjur diiming-imingkan, juga kepada suporter Persibo tentunya, jelas cidra realisasi. Kalau pun toh ada, itu berbentuk pengadaan  jalan cor dan melahap biaya sangat besar, namun belum pernah ditakar apa benar pemulusan sarana transportasi tersebut sesudah dibangun punya daya dongkrak perekonomian masyarakat Bojonegoro  ke tingkatan sejahtera?

Alahem! Ini enteng dijawab dengan goyang bokong bupati di TikTok…lah?

Lantas, bersangkutan soal pertanian? Lagi-lagi yang muncul adalah pemutaran kaset kosong bupati. Betapa tidak? Kenyataannya, petani justru kian disudutkan mengurusi kebingungan tentang mekanisme KPM (Kartu Petani Mandiri) dari pemerintah pusat.

Beban petani melindas. Di hadapan kelangkaan pupuk dan harganya melonjak, sikap bupati seharusnya sepadan reklame pencitraannya “Ngayomi dan Ngopeni” tapi ikut lenyap.  Wooow! Goyang bokong bupati di TikTok semakin sejurus tajam mengejek penderitaan petani.

Rangkaian kata berasap lain oleh bupati adalah penggaungan Green City. Pembuktiannya, sejumlah pohon peneduh di kawasan jalan perkotaan dibabat. Ikutannya, kegersangan meranggas  beserta banjir air saluran lambat surut ketika hujan, awet ada. Nih! Bokong bupati di TikTok bukan wadah produksi pengganti sejuk udara lho?

Betapa pun, bupati memang berselebritas dengan segala akrobat entertainmentnya. Boleh saja, itu pantas asal saja ia berselebritas bersama rakyat dengan kebenaran wujud selfienya kehidupan rakyat sejahtera.

Bertolak baliknya, bersama goyang bokong bupati di TikTok, angka-angka statistik dipola, dijadi-jadikan seolah masyarakat Bojonegoro sudah punya isi dan bobot sejahtera. Uhf! Bukankah itu cuma papan selancar bokong bengkak bupati agar ia terakui dengan sandangan panggilan Bu’e?

Agar jadi mitos, agar jadi kultus. Tik…Tok…!

Editor: Red – Indo Swara/Agung DePe 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *